Mobil

Menperin Targetkan TKDN Mobil Listrik Capai 80 Persen Pada 2030

Pemerintah menargetkan TKDN mobil listrik mencapai 80 persen pada 2030 untuk memperkuat industri manufaktur dan rantai pasok dalam negeri secara berkelanjutan.

Agung Pratnyawan

Menperin Targetkan TKDN Mobil Listrik Capai 80 Persen Pada 2030
Menperin Targetkan TKDN Mobil Listrik Capai 80 Persen Pada 2030

mobimoto.com - Mobil listrik kini menjadi fokus utama pemerintah Indonesia dalam memperkuat struktur manufaktur otomotif nasional melalui peningkatan rantai pasok lokal. Pemerintah menargetkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) kendaraan ramah lingkungan ini mampu mencapai angka 80 persen pada tahun 2030 mendatang.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa strategi afirmatif ini dirancang agar investasi tidak berhenti pada proses perakitan semata. Langkah ini sekaligus ditujukan untuk mendorong pertumbuhan industri komponen pendukung di dalam negeri secara berkelanjutan.

Pernyataan tersebut disampaikan Menperin saat menghadiri peresmian pabrik BYD yang berlokasi di Subang, Jawa Barat. Beliau menyampaikan bahwa peta jalan industri kendaraan listrik berbasis baterai telah disusun secara bertahap dan terukur.

Dalam aturan tersebut, kewajiban nilai minimal TKDN ditetapkan sebesar 40 persen hingga akhir tahun 2026. Selanjutnya, target tersebut ditingkatkan menjadi 60 persen pada periode 2027 hingga 2029, sebelum akhirnya menembus 80 persen mulai 2030.

"Dari sisi manufaktur, kebijakan tersebut juga memperdalam struktur industri melalui peningkatan penggunaan komponen dalam negeri," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita.

"Peta jalan KBLBB menetapkan peningkatan nilai minimum TKDN secara bertahap, yaitu 40 persen hingga 2026, 60 persen pada 2027-2029, dan 80 persen mulai 2030," lanjut Menperin.

Dampak dari implementasi regulasi ini sudah mulai terlihat dari melonjaknya nilai investasi dan kapasitas produksi nasional. Hingga saat ini, tercatat ada 14 perusahaan manufaktur yang telah menanamkan modalnya di sektor kendaraan listrik roda empat.

Total akumulasi investasi di sektor ini telah menembus angka Rp24,131 triliun dengan kapasitas produksi mencapai 409.860 unit per tahun. Pertumbuhan sektor ini turut menopang kinerja positif industri pengolahan nonmigas di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Pada triwulan kedua tahun 2026, sektor pengolahan nonmigas mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,32 persen secara tahunan. Capaian ini melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen pada periode yang sama.

Sektor manufaktur juga memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dengan porsi mencapai 0,97 poin persentase. Sementara itu, kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto nasional menyentuh angka 16,83 persen atau senilai Rp1.102,88 triliun.

Daya tarik investasi manufaktur juga tetap tinggi dengan realisasi mencapai Rp199,48 triliun pada triwulan kedua 2026. Jumlah tersebut menyumbang sekitar 38,98 persen dari total nilai investasi nasional.

Di sektor perdagangan luar negeri, komoditas pengolahan nonmigas menyumbang nilai ekspor sebesar 115,50 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka fantastis ini mendominasi hingga 82,03 persen dari total nilai ekspor Indonesia.

Penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur juga menunjukkan tren yang sangat kuat berdasarkan data resmi pemerintah. Hingga awal tahun 2026, industri pengolahan nonmigas telah berhasil menyerap sebanyak 19,99 juta tenaga kerja secara nasional.

Secara global, posisi daya saing manufaktur Indonesia terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Data Bank Dunia mencatatkan nilai Manufacturing Value Added (MVA) Indonesia mencapai 275,61 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Capaian tersebut berhasil mendongkrak peringkat Indonesia naik ke posisi 12 dunia dari sebelumnya berada di urutan 13. Hasil ini juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai kekuatan manufaktur terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Nilai MVA Indonesia bahkan tercatat dua kali lipat lebih besar dibandingkan Thailand yang menempati peringkat kedua di ASEAN. Sementara di tingkat benua Asia, Indonesia sukses menempati posisi kelima di bawah China, Jepang, India, dan Korea Selatan.

×
Zoomed

Berita Terkini